Museum Baru di Lereng Gunung Merapi, Saksi Erupsi yang Menewaskan Mbah Maridjan

Wisatawan yang berkunjung ke lereng Gunung Merapi kini bisa mendapatkan pengalaman baru. Mulai Sabtu, 11 Desember 2021, Pemerintah Kabupaten Sleman membuka satu destinasi wisata baru di kawasan lereng Gunung Merapi, yakni Museum Terbuka Bakalan.

Museum itu terletak di Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Letaknya sekitar 15 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Di atas desa tersebut adalah Desa Kinahrejo, sekitar 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi, tempat tinggal Mbah Maridjan. Juru kunci Gunung Merapi ini meninggal akibat erupsi pada 26 Oktober 2010.

Saat erupsi itu terjadi, sebagian warga Desa Argomulyo menganggap awan panas dari erupsi Gunung Merapi tak akan sampai ke sana. Ternyata prediksi itu meleset. Lebih dari 70 penduduk desa tersebut tewas karena terkena awan panas Gunung Merapi. Museum ini berdiri untuk mengingatkan pentingnya mitigasi bencana.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Suparmono mengatakan, Museum Terbuka Bakalan Cangkringan ini semakin memperkaya destinasi wisata di Kabupaten Sleman, khususnya di lereng Gunug Merapi. “Pembangunan museum ini telah melewati jalan yang panjang,” kata Suparmono pada Minggu, 12 Desember 2021.

Suparmono menjelaskan jalan panjang yang dimaksud bermula dari pembangunan tetenger erupsi Gunung Merapi pada 2010 dengan tema Sirno Jalmo Lenaning Paningal di Dusun Bakalan, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan. Tetenger itu berarti masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Merapi memahami risiko bencana erupsi, sehingga ke depannya berharap tak ada lagi korban karena kealpaan masyarakat.

Kemudian pada 2017 melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman membangun tetenger Sleman Volcanic Park sebagai penanda Museum Terbuka Bakalan senilai Rp 150 juta. Tahun berikutnya, Pemerintah Kabupaten Sleman membeli tujuh bidang tanah seluas 6.619 meter persegi senilai Rp 2,6 miliar untuk pengamanan material erupsi Gunung Merapi pada 2010.

Di 2019, Pemerintah Kabupaten Sleman mulai membangun akses masuk dan balkon Museum Terbuka Bakalan senilai Rp 130 juta. Pada 2020, pemerintah mulai membenahi lingkungan Museum Terbuka Bakalan. Pemerintah Kabupaten Sleman membangun pergola, menata lanskap, membuat toilet, dan berbagai fasilitas penunjang senilai Rp 419 juta.

Dan pada 2021, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menggelontorkan dana Rp 1,57 miliar untuk menyempurnakan Museum Terbuka Bakalan Cangkringan. Penyempurnaan itu meliputi pembangunan jalan setapak, pembuatan rambu penunjuk arah di dalam kawasan, fasilitas parkir, papan interpretasi, sarana kebersihan, dan peralatan mitigasi.

Pengeloaan Museum Terbuka Bakalan ini dikelola bersama kelompok masyarakat Pegiat Pariwisata Desa melalui Badan Usaha Milik Desa Argomulyo. “Kami juga menggandeng Komunitas Jeep Wisata untuk memasukkan trip ke museum ini guna meningkatkan jumlah wisatawan,” ujar Suparmono.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengatakan, keberadaan museum terbuka ini tidak hanya dapat dinikmati sebagai sebuah destinasi wisata baru di Sleman. “Lebih dari itu, museum ini menjadi saksi dahsyatnya erupsi Gunung Merapi yang terjadi sebelas tahun lalu,” kata dia.

Museum Terbuka Bakalan menyuguhkan berbagai hal yang mengingatkan wisatawan tentang potensi bencana erupsi Gunung Merapi, serta meningkatkan pemahaman masyarakat tentang mitigasi bencana supaya tetap waspada. “Ini merupakan situs bersejarah yang harus kita jaga dan rawat dengan baik. Jangan sampai ada vandalisme pada area museum,” kata Kustini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.